Melukat (lagi) ke Sebatu

Sejak masuk siaran Bali TV tempat melukat di  Desa Sebatu semakin ramai dikunjungi. Tahun 2010 lalu pertama kali aku ke sana jumlah pengunjungnya lumayan banyak. Tahun ini kembali aku melukat ke Sebatu, dan woww... parkir penuh, terpaksa jalan kaki cukup jauh karena dapat tempat parkirnya jauh. Untuk informasi lokasinya bisa berdayakan GPS anda, atau search di google maps yaaa... Seperti biasa kita harus melalui ratusan anak tangga. Kondisinya sekarang jauh lebih bagus, lebih banyak besi pegangan di sebelah anak tangga. Perjalanan menuruni anak tangga sangatlah menyenangkan, suasananya sangat sejuk pemandangannya juga menyenangkan.

Akhirnya sampai di tujuan, pertama kita sembahyang di Pura Dalem Pingit, setelah itu barulah turun ke tempat melukat. Tempat melukat ini terdiri dari tiga air terjun pendek dengan arus air yang sangat deras. Satu air terjun agak besar dan dua lainnya lebih kecil. Air terjun ini bersumber dari mata air (klebutan) jadi airnya sangat jernih dan segar. Hari ini antreannya sangat panjang, hampir 30 menit berdiri menunggu giliran sampai di air terjun. Pada saat melukat kita membawa kuangen disertai sebatang dupa yang nanti akan dilepas saat tersiram air terjun. Banyak sekali orang kesurupan begitu sampai di air terjun, ada yang teriak, menangis, menari-nari atau hendak berlari menjauh. Konon katanya orang yang memiliki penyakit setelah disiram air terjun maka air seketika akan berubah warna menjadi keruh. Aku sendiri tidak melihat, tapi temanku sempat melihatnya.

Setelah selesai melukat kita kembali sembahyang di pelinggih di belakang lokasi penglukatan. Setelah itu barulah berganti pakaian di tempat yang disediakan. Tempatnya cukup memadai, namun karena membludaknya pengunjung jadilah berdesak-desakan, sampai-sampai barang bawaan bisa tertukar. Selanjutnya kembali kita harus menaiki anak tangga tadi, cukup melelahkan memang. Namun ada beberapa warung yang bisa disinggahi sembari melepas lelah. Sayang sekali aku tidak banyak bisa mengambil gambar di sini, karena keburu hujan deras mengguyur.

Melukat bertujuan untuk membersihkan jiwa dan pikiran. Masalah benar atau tidaknya tergantung diri masing-masing. Setidaknya bagiku melukat dapat mengingatkan diri kita bahwa jiwa dan pikiran kita sudah 'bersih' maka janganlah dikotori lagi dengan pikiran dan perbuatan negatif.

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.

Waterblow @ Nusa Dua, Bali


Hari-hari di Nusa Dua begitu panas menyengat, meskipun itu di sore hari. Mungkin karena pengaruh lokasinya di daerah bukit berbatu karang. Masuk ke kawasan BTDC melewati Bali Collection menuju arah pantai, disanalah lokasi Pantai Nusa Dua a.k.a Water Blow. Ini merupakan pantai yang memiliki batu karang tajam-tajam, jadi hati-hati kalau berjalan di sini.

Di Pantai ini terdapat dua pulau yang menjorok ke tengah laut. Untuk mencapai titik waterblow kita harus berjalan kaki beberapa ratus meter. Tapi tidak usah khawatir karena di sepanjang jalan setapak telah disediakan tempat peristirahatan dan tempatnya di sini benar-benar tertata rapi, mungkin karena berada di area hotel berbintang.


Waktu paling pas ke sini adalah pada saat air laut pasang, karena untuk melihat water blow diperlukan ombak yang besar dan hembusan angin kencang. Hembusan angin akan menghempaskan ombak ke batu karang dan air akan tersembur ke atas hingga bisa mencapai tinggi lebih dari 10 meter. Itulah mengapa dinamakan water blow.

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.

Sudah Pintarkah Smartphone-mu ?

Sudahkah ponsel pintarmu difungsikan layaknya sebuah smartphone? Banyak sekali aplikasi yang bisa digunakan untuk memudahkan kegiatan kita, layaknya sebuah komputer mini dalam genggaman. Mulai dari mengetik dalam ms. word & excel, kirim email, browsing, memanfaatkan GPS sebagai penunjuk jalan, aplikasi pengingat waktu ber-alarm, kalender, mobile banking, aplikasi editing foto, pemutar musik, radio streaming, baca berita, prakiraan cuaca dan masih ada ribuan lagi. Namanya juga smartphone, mudah-mudahan pengunanya bisa menggunakannya dengan smart. Rasanya terlalu mahal kalau smartphone hanya digunakan untuk update status.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.

Rest in Peace : Myo

Myo, itu nama anjingku. Lahir sebelas bulan yang lalu, dan telah memiliki 4 ekor anak cewek. Tidak seperti biasanya, si Myo terus murung dan tidak mau makan. Apa yang terjadi denganmu ? Kubawa si Myo kedokter, kata dokter anjingnya tidak apa-apa. Dikasi salep perangsang nafsu makan. Tapi tetap saja Myo tidak mau makan, meskipun suhu badannya sudah turun. Akhirnya kubawa ke rumah sakit hewan di Jl. Tukad Balian, Renon. Setelah diperiksa ternyata Myo terkena sakit Lever. Oh my ghost... Ibu dokternya juga heran kenapa anjing sekecil itu sudah terkena sakit lever ? Apa ini pengaruh suntik rabies gratisan yang dikasi di bale banjar? Mungkin saja, itu pun kalau pada saat disuntik kondisi si Myo sedang tidak baik. Tapi sepertinya saat itu si Myo sehat-sehat saja.

Akhirnya dokter menyarankan agar dilakukan operasi lever. Tapi sebelumnya harus dilakukan cek darah dan X-Ray. Wah  wah wah sebegitu gawatnya. Begitu akan dilakukan cek darah ternyata si Myo kehabisan darah, jadi mesti dilakukan transfusi darah dan kebetulan di rumah sakit itu tidak ada stok darah. Lalu bagaimanaaa..?? Aku disuruh mencari anjing donor yang memiliki darah sejenis. Aduuuhhh..... bagaimana bisaaa....?? Dan itupun kalau darahnya cukup, kalau besoknya kekurangan darah lagi, aku mesti cari anjing pendonor yang lain lagi yang memiliki darah sejenis pula. Dan besoknya lagi dan besoknya lagi...??? Kata dokter kalau tidak segera Myo bisa mati. hikz..hikz... Yaaaa... sudahlah, kuputuskan si Myo aku bawa pulang. Kubelai dia dan kukatakan, “jika memang ini waktumu pergilah, terima kasih telah menemaniku....” Rest in Peace : Myo.

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.

Kutengok Bekas Kampusku

Tahun 2001 pertama kali kumenginjakkan kaki di kampus Universitas Udayana yang kucinta, di Bukit Jimbaran, tepatnya di fakultas ekonomi kampus bawah. (Kalau mau ke kampus atas mesti mendaki menuju puncak lagi beberapa meter, hihihihi... ). Tempatnya panas dan gersang, parkir motor dan parkir sapi tercampur-aduk. Toiletnya tak berair (tapi kadang tiba-tiba kebanjiran). Halamannya terbuat dari tanah bercampur batu karang alami dan bermahkotakan rumput yang enggan bergoyang. Itu duuluuuuu...

Sekarang kutengok lagi kampus kebanggaanku, sudah terlihat lebih cantik. Parkir tertata rapi beralaskan batu paving. Halamannya pun telah dipagari besi. Kalau dulu hanya dipagari pepohonan, sehingga sapi-sapi milik warga bebas berkelana mengelilingi ruang kuliah. Bahkan ada sapi jahil ngencingin motor orang. Kalau berjalan kita mesti hati-hati, banyak terpasang ranjau darat. Kalau ku jenuh memandangi dosen, ku bisa menatapi seekor sapi yang terbengong di parkiran motor karena talinya tersangkut. Itulah salah satu hiburan. Dan ketika pak dosen asyik ngoceh di depan, tiba-tiba si sapi nyaut : "emboooooooooo......"

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.

Jeg Pragat Nyetop Jalan Gen..!!

Nyen nawang jalan danau beratan sanur ? To jalan ane ling KFC sanur ngauh bin dik trus ade jalan ngelod, nah to be ye. Yen ane sai liwat jalan hangtuah pasti nawang. Nak ngelah ciri khas jalan ne, sai-sai di pertigaan ne misi plang dilarang masuk ada upacara adat, keto kone. Abulan bise pang lime pang pitu jalane mesetop. Ulian ade nak ngelah gae nganten kanti di tengah jalan masang tenda ngejang kursi anggon tongos resepsi. Sing je ulian umah bes cenik, kale undangane bes liu. Maklum umah penggede liu dini. Gae metatah masih keto, odalan, kanti ngadang bazaar nyetop jalan. Pokokne pang ngenah paling mangkane.

Ane paling pedalem kan sopir bemo e, sing ngidang ngalih gae ye. Nah kanggo je ditu, nak jak montoan gen ngelah jalane. Rage mejalan megae kangguang masuk gank to gank. Ade be cicing bebeki ngandang medem di tengah rurung, das ked lides bungutne. Nagih nyagreng ye nok, gedeg basang dadiang RW nasne...!!

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.

Mebayuh di Hari Otonan

Otonanku kali ini bertepatan dengan purnama dan dirangkaikan dengan mebayuh. Mebayuh katanya untuk menghilangkan sifat-sifat buruk dalam diri, memohon keselamatan, dan membayar hutang di masa lalu. Beberapa hari sebelum mebayuh dan otonan, disebutkan sifat-sifatku, dan sedikit diramal masa depan. Dan yang paling kuingat adalah suatu saat nanti dikatakan aku akan jadi pejabat dan punya banyak pengikut, ђåª•ђåª•ђåª•ђåª•ђåª•ђåª...

Sebelum otonan, didahului dengan mebayuh. Aku disirami air beberapa kali sampai basah kuyup. Dan begitulah sampai badan ini menggigil kedinginan. Selanjutnya baru otonan dilakukan. Bantennya pun disesuaikan dengan kelahiranku yang jatuh pada selasa kliwon wuku kulantir, yang dipengaruhi oleh betara Langsur. Tapi yang terpenting bagiku adalah penyucian yang kulakukan sendiri melalui perbuatan, pikiran, dan perkataan. Ritual mebayuh tak kan ada gunanya jika dilakukan hanya sebatas simbol, tanpa ada tindakan nyata sesuai makna mebayuh itu sendiri. Setidaknya mebayuh membuatku merasa 'bersih' sehingga menjadikanku takut melakukan hal-hal yang kotor.

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.